8 November 2026

​ Newsbrata.com//Sangihe—
Gelanggang judi sabung ayam ilegal di wilayah Malebur, Kelurahan Santiago, Kecamatan Tahuna, berubah menjadi arena berdarah pada Sabtu (17/10/2026) sore. Insiden tragis yang nyaris merenggut nyawa ini memicu gelombang kemarahan publik. Kepolisian Resor (Polres) Kepulauan Sangihe kini mendapati sorotan tajam dan mendesak dipaksa bertindak tegas, tanpa pandang bulu!

​Detik-Detik Penikaman Tragis

​Korban berinisial DT alias Emon (38), warga Kelurahan Penanekeng, tergeletak tak berdaya dengan luka tusuk parah di dada sebelah kiri—hanya beberapa milimeter dari organ vital—serta luka sayatan menganga di lengan kiri. Senjata yang merobek tubuhnya tak lain adalah pisau taji ayam yang sangat tajam. Terduga pelaku diidentifikasi berinisial LA alias Tipe (41), warga Talolang, Kecamatan Tabukan Utara.

​Kejadian berawal dari perselisihan mendadak di luar gelanggang. Korban yang sedang berdiri tiba-tiba didorong oleh salah satu peserta judi hingga terjadi adu mulut. Tanpa diduga, LA menyeruak masuk sambil menghunus pisau taji ayam dan langsung menyerang korban secara brutal.
​”Saya sempat mencoba membela diri dan menghindar, tapi serangannya sangat cepat. Begitu dada dan tangan saya bersimbah darah, saya terpaksa mundur sebelum akhirnya ditolong rekan-rekan,” ungkap DT dengan suara lemas saat ditemui di ruang perawatan RSUD Liun Kendage, Tahuna.

​Akal-Akalan Terduga Pelaku & Keterangan Palsu

​Usai kejadian, terduga pelaku LA yang juga mengalami luka di bagian kepala sempat diamankan ke Polsek Tahuna sebelum dilarikan ke RS Liun Paduli, Tabukan Utara. Namun, drama mengejutkan terjadi di rumah sakit: pihak keluarga LA diduga kuat memberikan keterangan bohong kepada tim medis dengan mengklaim luka tersebut akibat kecelakaan lalu lintas di Jalan Raku.

​Saat dikonfirmasi wartawan di ruang IGD, LA memilih bungkam seribu bahasa. Lebih mencurigakan lagi, begitu usai mendapat perawatan singkat, LA langsung diperbolehkan pulang dan keberadaannya kini misterius bagai diusut angin.

​Pernyataan Kontroversial Kasat Reskrim: “Cari Kelebihan Doi Bensin”

​Di tengah insiden berdarah ini, publik makin dibuat geram oleh pernyataan Kasat Reskrim Polres Kepulauan Sangihe, IPTU Harli Essing Buida, S.H. Saat dikonfirmasi media via telepon, Buida melontarkan pernyataan yang sangat mencetuskan polemik.

​Ia menuding bahwa gelanggang judi sabung ayam tersebut merupakan inisiatif dari beberapa oknum wartawan setempat untuk mencari keuntungan pribadi.
​”Itu kan kegiatannya wartawan, cari-cari kelebihan doi bensin,” cetus IPTU Harli Essing Buida singkat, sembari mengarahkan agar media mengonfirmasi lebih lanjut kepada seorang oknum wartawan berinisial MS.

​Desakan Pegiat Publik: Bongkar Dalang & Waspadai Tumbal Papan Atas

​Pernyataan aparat yang terkesan ‘melempar bola panas’ ini memantik reaksi keras dari aktivis senior di Sangihe. Pihak kepolisian dituntut tidak menyederhanakan masalah hanya pada kasus penganiayaan biasa, melainkan membongkar akar penyakit masyarakat dan aktor intelektual di balik arena judi berdarah tersebut.

​”Judi sabung ayam ini adalah kejahatan Kamtibmas nyata yang kini sudah memakan korban jiwa dan pertumpahan darah! Pihak kepolisian tidak boleh tinggal diam apalagi berlindung di balik isu oknum wartawan. Usut tuntas siapa backing kuat di belakang gelanggang ini!” tegas salah satu aktivis senior Sangihe.

​Masyarakat kini menunggu langkah konkret Polres Kepulauan Sangihe: Akankah hukum ditegakkan secara presisi, atau arena judi berdarah ini dibiarkan menguap begitu saja ?

​Menanggapi insiden berdarah di gelanggang sabung ayam Malebur serta pernyataan kontroversial yang mencoreng profesi jurnalis, Ketua DPD Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI) Sulawesi Utara, Bapak Hendra Tololiu, angkat bicara dan mengecam keras kejadian tersebut.

​Hendra menegaskan bahwa insiden penikaman hingga berdarah ini bukan lagi sekadar pelanggaran ketertiban umum, melainkan tindak pidana berat yang mengancam keselamatan jiwa masyarakat.
​”Penikaman di arena judi sabung ayam Malebur ini sudah masuk ranah kriminal murni dan sangat meresahkan masyarakat. Kami menyayangkan dan mengecam keras jika ada upaya melempar bola panas atau membawa-bawa nama insan pers/wartawan sebagai dalih di balik beroperasinya arena judi tersebut,” tegas Hendra Tololiu.

​Ia menambahkan, profesi wartawan dilindungi oleh undang-undang untuk menyampaikan informasi dan mengontrol sosial, bukan dijadikan ‘kambing hitam’ atau ‘tameng’ atas praktik perjudian ilegal.

​🚨 Harapan & Desakan Kepada Aparat Penegak Hukum (APH)

​Lebih lanjut, Hendra Tololiu menyampaikan poin-poin desakan dan harapan utama PPWI Sulut kepada pihak APH (Polres Kepulauan Sangihe dan Polda Sulawesi Utara):

​Usut Tuntas Tanpa Pandang Bulu (Transparan & Akuntabel):
APH diminta segera menangkap dan memproses hukum terduga pelaku penikaman (LA alias Tipe) secara transparan. Jangan ada celah atau ‘keistimewaan’ hukum, termasuk mengusut tuntas dugaan rekayasa laporan medis palsu mengenai kecelakaan lalu lintas.

​Bongkar Cukong & Backing Utama Gelanggang Judi:
Polres Sangihe dan Polda Sulut harus berani membongkar dan menindak tegas siapa pun “aktor intelektual” atau backing kuat yang memfasilitasi arena judi berdarah tersebut.

​Tutup Permanen Seluruh Arena Perjudian di Sangihe:
PPWI Sulut mendesak APH untuk segera melakukan razia dan penutupan permanen terhadap seluruh lokasi judi sabung ayam di Sangihe demi menjaga kondusivitas Kamtibmas.

​Bersihkan Nama Baik Insan Pers:
APH diharapkan melakukan klarifikasi menyeluruh dan membuktikan secara hukum jika ada oknum yang menyalahgunakan nama wartawan, agar kepercayaan publik terhadap media dan aparat penegak hukum tetap terjaga.

​”Masyarakat menunggu bukti nyata di lapangan, bukan sekadar opini atau saling tuduh. Jika terbukti ada perjudian dan tindak pidana, tangkap, proses, dan tutup total! APH harus berdiri tegak demi keadilan dan hukum di tanah Sangihe,” pungkas Hendra. (Stefanus Takaliuang)

Bagikan Artikel:
Link artikel berhasil disalin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *