8 November 2026

NEWSBRATA.COM//MANADO

Cara berbeda dilakukan Polda Sulawesi Utara untuk membangun budaya tertib berlalu lintas. Tidak dengan razia, melainkan dengan ngopi bareng.

Kapolda Sulawesi Utara Irjen Pol Yudo Hermanto, S.I.K., M.M., menggelar dialog santai bersama komunitas ojek online (Ojol) Kota Manado di Kedai Kopi Sedjak 2019, Kelurahan Pinaesaan, Kecamatan Wenang, Senin (2/11/2026).

 

Didampingi Kapolresta Manado Kombes Pol Irham Halid, S.I.K., Kapolda duduk lesehan berdialog langsung dengan puluhan driver ojol. Suasana cair dan penuh keakraban, namun pesan keselamatannya mengena.
“Kami ingin Ojol bukan hanya sekadar pengguna jalan, tapi menjadi pelopor dan duta keselamatan berlalu lintas,” tegas Kapolda Sulut di hadapan komunitas.
Menurutnya, pengemudi ojol adalah kelompok yang paling intens berada di jalan raya. Setiap hari mereka bersentuhan langsung dengan risiko laka lantas, kemacetan, dan dinamika jalan. Karena itu, ketertiban mereka akan sangat berpengaruh pada keselamatan publik.

Dalam dialog tersebut, Kapolda dan Kapolresta menekankan beberapa poin penting Kamseltibcar Lantas:

1. Keselamatan di Atas Segalanya: Wajib menggunakan helm SNI bagi pengemudi dan penumpang, tidak melawan arus, dan patuhi rambu serta marka jalan.
2. Fokus Berkendara: Dilarang menggunakan handphone saat berkendara dan dilarang berkendara ugal-ugalan demi mengejar orderan.
3. Jaga Penumpang: Utamakan keselamatan penumpang dan pengguna jalan lain.

Tak hanya sosialisasi, pertemuan ini juga menjadi forum curhat. Para driver ojol diberi ruang untuk menyampaikan aspirasi, keluhan di lapangan, hingga persoalan keamanan saat menarik penumpang di jam-jam rawan.

 

Kapolresta Manado Kombes Pol Irham Halid menambahkan, kemitraan Polri dengan komunitas Ojol sangat strategis.

“Ojol adalah mata dan telinga Polri di jalan. Mereka yang paling tahu situasi lapangan. Kami ingin mereka menjadi mitra aktif dalam menjaga keamanan dan ketertiban Kota Manado,” ujar Kombes Irham Halid.

Melalui dialog humanis ini, Polda Sulut berharap terbangun kesadaran kolektif. Tertib berlalu lintas bukan karena takut polisi, tapi karena menjadi budaya dan kebutuhan bersama untuk selamat sampai tujuan. (Michael)

Bagikan Artikel:
Link artikel berhasil disalin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *